Minggu, 22 Januari 2012

ARSITEKTUR TAHAN GEMPA


       I.            DEFINISI
Gempa? Tentunya bukan sesuatu yang kita harapkan. Tetapi belakangan, bencana ini seolah terus mengusik kedamaian negeri kita tercinta. Menurut ahli kebumian, wilayah Indonesia termasuk daerah yang rawan gempa karena posisinya terletak pada pertemuan 3 lempeng (patahan) bumi. Ini berarti semua daerah memiliki potensi gempa di kemudian hari tanpa terkecuali.
Pada beberapa kasus gempa, mayoritas korban mengalami luka atau meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan dinding atau atap bangunan. Artinya, faktor kekuatan bangunan ikut berpengaruh terhadap jumlah korban.
Faktor material dan struktur jelas berpengaruh pada ketahanan bangunan terhadap gempa. Struktur yang fleksibel dan dinamis, akan memberikan pergerakan yang dinamis pula saat terjadi guncangan. Demikian halnya dengan material yang digunakan. Semakin ringan material, akan semakin baik juga dalam meminimalisasi risiko rumah ambruk. Intinya, sesuatu itu harus dibangun dan didesain secara efektif dan tepat guna.
Yang dimaksud tahan gempa di sini, bukan berarti rumah atau bangunan yang tidak rusak sama sekali ketika terguncang gempa. Melainkan bangunan yang mampu bertahan terhadap guncangan atau tidak roboh seketika sewaktu terkena guncangan.
Dalam hal ini bangunan tahan gempa juga perlu menstandarkan terhadap aspek – aspek yang ada, berikut aspek yang ada :
1.   Inovasi desain, dengan tetap mempertimbangkan estetika dan memberikan solusi terhadap kondisi yang ada.
2.      System atau teknologi yang digunakan dalam bentuk sederhana.
3.   Optimalisasi penggunaan semen dan material modern non semen, dan kesesuaian desain bangunan dengan lingkungan sekitar, termasuk lingkungan alam (iklim, cuaca) dan kondisi sosial budaya masyarakat.


    II.            SEJARAH
Artefak  kebudayaan Minangkabau, termasuk  hunian yang aman  dan nyaman merupakan hasil budaya yang lahir dari dialektika orang Minangkabau dalam filosofi “Alam Takambang Jadi Guru”.
Bagaimana ini diwujudkan dalam sejarah arsitektur rumah gadang sehingga sangat memungkinkan untuk dikaji sebagai arsitektur aman gempa? Disini, ada perhitungan dengan alam atau kondisi geografisnya. Menurut tambo minangkabau, nenek moyang orang minangkabau itu turun pertama kali dari lereng sebelah selatan Gunung Merapi, dan kemudian menyebar kesekitar gunung.
Ini salah satu sebab yang membuat orang minangkabau memutar otak bagaimana membuat desain bangunan yang tepat dengan kondisi seperti itu, Menurut cerita yang dipertahankan, nenek moyang orang minangkabau datang ke daratan sebagai pelaut yang handal. Termasuk dalam teknik pembuatan kapal. Sehingga rancangan rumah gadang ini dibuat berbentuk kapal.
Di sini ada seneritas antara kondisi alam daratan dan lautan dengan bentuk hunian seperti kapal. Rumah Gadang dibangun dengan bentuk lancip ke bawah, seperti kapal. Setiap tiangnya tidaklah tidak lurus atau horizontal tapi mempunyai kemiringan. Bentuk lancip ke bawah ini membuat kapal tahan tahan dari hempasan dan terjangan gelombang, sulit untuk terbalik.Berbeda, jika penampangnya dibuat lurus seperti kotak,akan mudah terbalik dihantam gelombang.
Kekuatan bidang miring yang kembang ke atas inilah yang  mungkin menjadi inspirasi tukang tuo, yang sebelumnya mahir membuat kapal itu, untuk membuat rumah gadang. Di sinilah konsepsi harmonis dan dinamis dalam konteks bakarano bakajadian itu bermain.
Tampak depan, bentuk badannya yang segi empat dan membesar ke atas dengan atap yang melengkung seperti tanduk kerbau, sisinya melengkung ke dalam, bagian  tengahnya rendah seperti perahu, secara estetika merupakan komposisi yang dinamis. Begitu pula, jika dilihat dari samping (penampang), segi empat yang membesar ke atas ditutup dengan segi tiga yang melengkung ke dalam yang membentuk keseimbangan estetis nan harmonis.
Hal lain yang perlu dipelajari dari rumah gadang terkait dengan konsep aman gempa, melihat penampangnya yang segi empat yang lebar keatas atau trapesium terbalik itu, jika saja ditarik garis dari sisi-sisi trapesium terbalik itu kebawah, ia akan bertemu dengan satu titik di pusat bumi. Bila digambarkan lagi akan menyerupai segitiga sama kaki yang terbalik.
Pada akhirnya penampang rumah gadang ini, antara penampang badan dan atap,akan menyerupai dua segitiga yang dipertemukan salah satu sisinya. Hal ini masih dalam tahap pelajaran menemukan literature yang mengakaji rasio hubungan pertemuan titik tadi dangan pusat bumi. Kemungkinan ada hubunganya dengan katahanannya terhadap getaran terhadap getaran akibat pergeseran kulit bumi.

 III.            CIRI
Hampir semua rumah tradisional di Indonesia terdapat ciri – ciri kefleksibelan dan kestabilan terhadap gempa. Disini kita akan membahas apa saja ciri yang berpengaruh terhadap gempa. Salah satu hal ini disebabkan oleh beberapa ciri - ciri rumah tradisional, menurut berbagai sumber yang saya baca, antara lain :
1.      Struktur rumah tradisional tidak sekaku struktur rumah beton. Karena rangka utamanya (core frame) terdiri dari batu (umpak), kolom utama, dan kolom-kolom penguat. Kolom utama umumnya berdiri tegak dan diantaranya terdapat kolom-kolom penguat yang bersilangan, menyerupai huruf x miring. Kolom-kolom inilah yang berfungsi untuk menahan beban lateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa.
2.      Struktur rumah tradisional yang berbahan kayu dapat menghasilkan kemampuan meredam getaran atau guncangan yang lebih efektif, yang lebih fleksibel, dan juga stabil.
3.      Kolom rumah memiliki tumpuan sendi dan rol atau ikatan antara balok kayu yang saling mengunci tanpa dipaku. Kolom-kolom tegak dihubungkan dengan kolom-kolom penguat atau balok-balok penyanggah melalui sambungan sistem pasak. Teknik pasak pada sambungan kayu membuat balok-balok kayu tidak patah ketika terjadi gempa, karena balok-balok penyangga ini yang dapat berputar bebas seperti engsel pada jarak tertentu.
Meskipun ciri arsitektur tahan gempa pada rumah tradisional nampak berbeda - beda antara satu etnis dengan etnis yang lain di wilayah Nusantara, misalnya : Omo Hada di Nias - rumah panggung di daratan Sumatera, Joglo di Jawa dan rumah tradisional lain di Bali, Minahasa, Sumbawa, Alor dan Papua namun ciri-ciri struktur tahan gempa tersebut umumnya dapat dijumpai di setiap rumah tradisional tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar