Minggu, 22 Januari 2012

ARSITEKTUR TAHAN GEMPA


       I.            DEFINISI
Gempa? Tentunya bukan sesuatu yang kita harapkan. Tetapi belakangan, bencana ini seolah terus mengusik kedamaian negeri kita tercinta. Menurut ahli kebumian, wilayah Indonesia termasuk daerah yang rawan gempa karena posisinya terletak pada pertemuan 3 lempeng (patahan) bumi. Ini berarti semua daerah memiliki potensi gempa di kemudian hari tanpa terkecuali.
Pada beberapa kasus gempa, mayoritas korban mengalami luka atau meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan dinding atau atap bangunan. Artinya, faktor kekuatan bangunan ikut berpengaruh terhadap jumlah korban.
Faktor material dan struktur jelas berpengaruh pada ketahanan bangunan terhadap gempa. Struktur yang fleksibel dan dinamis, akan memberikan pergerakan yang dinamis pula saat terjadi guncangan. Demikian halnya dengan material yang digunakan. Semakin ringan material, akan semakin baik juga dalam meminimalisasi risiko rumah ambruk. Intinya, sesuatu itu harus dibangun dan didesain secara efektif dan tepat guna.
Yang dimaksud tahan gempa di sini, bukan berarti rumah atau bangunan yang tidak rusak sama sekali ketika terguncang gempa. Melainkan bangunan yang mampu bertahan terhadap guncangan atau tidak roboh seketika sewaktu terkena guncangan.
Dalam hal ini bangunan tahan gempa juga perlu menstandarkan terhadap aspek – aspek yang ada, berikut aspek yang ada :
1.   Inovasi desain, dengan tetap mempertimbangkan estetika dan memberikan solusi terhadap kondisi yang ada.
2.      System atau teknologi yang digunakan dalam bentuk sederhana.
3.   Optimalisasi penggunaan semen dan material modern non semen, dan kesesuaian desain bangunan dengan lingkungan sekitar, termasuk lingkungan alam (iklim, cuaca) dan kondisi sosial budaya masyarakat.


    II.            SEJARAH
Artefak  kebudayaan Minangkabau, termasuk  hunian yang aman  dan nyaman merupakan hasil budaya yang lahir dari dialektika orang Minangkabau dalam filosofi “Alam Takambang Jadi Guru”.
Bagaimana ini diwujudkan dalam sejarah arsitektur rumah gadang sehingga sangat memungkinkan untuk dikaji sebagai arsitektur aman gempa? Disini, ada perhitungan dengan alam atau kondisi geografisnya. Menurut tambo minangkabau, nenek moyang orang minangkabau itu turun pertama kali dari lereng sebelah selatan Gunung Merapi, dan kemudian menyebar kesekitar gunung.
Ini salah satu sebab yang membuat orang minangkabau memutar otak bagaimana membuat desain bangunan yang tepat dengan kondisi seperti itu, Menurut cerita yang dipertahankan, nenek moyang orang minangkabau datang ke daratan sebagai pelaut yang handal. Termasuk dalam teknik pembuatan kapal. Sehingga rancangan rumah gadang ini dibuat berbentuk kapal.
Di sini ada seneritas antara kondisi alam daratan dan lautan dengan bentuk hunian seperti kapal. Rumah Gadang dibangun dengan bentuk lancip ke bawah, seperti kapal. Setiap tiangnya tidaklah tidak lurus atau horizontal tapi mempunyai kemiringan. Bentuk lancip ke bawah ini membuat kapal tahan tahan dari hempasan dan terjangan gelombang, sulit untuk terbalik.Berbeda, jika penampangnya dibuat lurus seperti kotak,akan mudah terbalik dihantam gelombang.
Kekuatan bidang miring yang kembang ke atas inilah yang  mungkin menjadi inspirasi tukang tuo, yang sebelumnya mahir membuat kapal itu, untuk membuat rumah gadang. Di sinilah konsepsi harmonis dan dinamis dalam konteks bakarano bakajadian itu bermain.
Tampak depan, bentuk badannya yang segi empat dan membesar ke atas dengan atap yang melengkung seperti tanduk kerbau, sisinya melengkung ke dalam, bagian  tengahnya rendah seperti perahu, secara estetika merupakan komposisi yang dinamis. Begitu pula, jika dilihat dari samping (penampang), segi empat yang membesar ke atas ditutup dengan segi tiga yang melengkung ke dalam yang membentuk keseimbangan estetis nan harmonis.
Hal lain yang perlu dipelajari dari rumah gadang terkait dengan konsep aman gempa, melihat penampangnya yang segi empat yang lebar keatas atau trapesium terbalik itu, jika saja ditarik garis dari sisi-sisi trapesium terbalik itu kebawah, ia akan bertemu dengan satu titik di pusat bumi. Bila digambarkan lagi akan menyerupai segitiga sama kaki yang terbalik.
Pada akhirnya penampang rumah gadang ini, antara penampang badan dan atap,akan menyerupai dua segitiga yang dipertemukan salah satu sisinya. Hal ini masih dalam tahap pelajaran menemukan literature yang mengakaji rasio hubungan pertemuan titik tadi dangan pusat bumi. Kemungkinan ada hubunganya dengan katahanannya terhadap getaran terhadap getaran akibat pergeseran kulit bumi.

 III.            CIRI
Hampir semua rumah tradisional di Indonesia terdapat ciri – ciri kefleksibelan dan kestabilan terhadap gempa. Disini kita akan membahas apa saja ciri yang berpengaruh terhadap gempa. Salah satu hal ini disebabkan oleh beberapa ciri - ciri rumah tradisional, menurut berbagai sumber yang saya baca, antara lain :
1.      Struktur rumah tradisional tidak sekaku struktur rumah beton. Karena rangka utamanya (core frame) terdiri dari batu (umpak), kolom utama, dan kolom-kolom penguat. Kolom utama umumnya berdiri tegak dan diantaranya terdapat kolom-kolom penguat yang bersilangan, menyerupai huruf x miring. Kolom-kolom inilah yang berfungsi untuk menahan beban lateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa.
2.      Struktur rumah tradisional yang berbahan kayu dapat menghasilkan kemampuan meredam getaran atau guncangan yang lebih efektif, yang lebih fleksibel, dan juga stabil.
3.      Kolom rumah memiliki tumpuan sendi dan rol atau ikatan antara balok kayu yang saling mengunci tanpa dipaku. Kolom-kolom tegak dihubungkan dengan kolom-kolom penguat atau balok-balok penyanggah melalui sambungan sistem pasak. Teknik pasak pada sambungan kayu membuat balok-balok kayu tidak patah ketika terjadi gempa, karena balok-balok penyangga ini yang dapat berputar bebas seperti engsel pada jarak tertentu.
Meskipun ciri arsitektur tahan gempa pada rumah tradisional nampak berbeda - beda antara satu etnis dengan etnis yang lain di wilayah Nusantara, misalnya : Omo Hada di Nias - rumah panggung di daratan Sumatera, Joglo di Jawa dan rumah tradisional lain di Bali, Minahasa, Sumbawa, Alor dan Papua namun ciri-ciri struktur tahan gempa tersebut umumnya dapat dijumpai di setiap rumah tradisional tersebut.

FUNGSI RUMAH BAGI MASYARAKAT SOSIAL

Rumah adalah dermaga tempat berlabuh para penghuninya.
Rumah merupakan reinterprestasi sosial budaya masyarakat terhadap alam dan kehidupan tempat tinggalnya.
Rumah adalah tempat hunian kita beristrirahat dari penatnya aktifitas sehari - hari, bersosialisasi dengan keluarga, tetangga dan masyarakat dan menciptakan hubungan yang harberharmonisasi bagi seluruh penghuninya.
Bagian rumah yang sering kita jumpai adalah taman atau pekarangan. Taman atau pekarangan merupakan cerminan dari energi alam dan energi adalah sumber kehidupan yang sewaktu – waktu akan bermanfaat sekali terhadap kelangsungan hidup manusia.

Oleh karena itu jika rumah dan pekarangan dirancang sebagai satu kesatuan yang harmonis, akanlah tercipta sesuatu estetika yang  memberikan energi kehidupan yang sangat positif dan sangat bermanfaat bagi penghuninya.
Ada 4 fungsi rumah :
1.      Sebagai tempat tinggal yang nyaman
2.      Sebagai sumber ibadah
3.      Sebagai sumber ilmu
4.      Sebagai sumber pendapatan
Yang dimaksud dengan rumah sebagai tempat tinggal yang nyaman adalah dimana kita dapat menempatkan diri kita untuk menikmati segala suasana yang ada sehingga dari suasana itu dapat dikombinasikan menjadi sesuatu yang nyaman.
Yang dimaksud dengan rumah sebagai tempat ibadah adalah dimana kita dapat menempatkan diri sebagai imam/ dalam keluarga (bagi kaum lelaki) dan diman kita dapat menempatkan diri sebagai wakil dari imam/pemimpin tersebut yang bertujuan untuk menciptakan sesuatu kepemimpinan di dalam suatu lingkungan rumah.
Yang dimaksud dengan rumah sebagai sumber ilmu adalah dimana kita yang berada dalam suatu bangunan tersebut dapat berfikir secara positif sehingga rumah tersebut tidak hanya menjadi suatu tempat peristirahatan namun dapat menjadi sarana terciptanya pikiran positif yang akan membuahkan sumber ilmu
Sedangakan yang dimaksud dengan rumah sebagai hasil pendapatan adalah dimana seseorang mampu atau dapat bersingkroni dengan apa yang menjadi tanggung jawab mereka untuk dapat mewujudkan suatu nilai yang dapat melengkapi suatu kenyamanan dengan penghasilan (kaum lelaki).
Selamat mencoba para pembaca, semoga rumah kita mempunya 4 fungsi dari rumah tersebut.

STRUKTUR KONSTRUKSI



PONDASI
Yang dimaksud dengan pondasi adalah bagian dari bangunan bawah yang meneruskan beban ke tanah pendukung.
Jenis – jenis pondasi :
Pondasi dapat di golongkan menjadi tiga jenis :
·         Pondasi Dangkal
Kedalaman masuknya ke tanah relatif dangkal, hanya beberapa meter masuknya ke tanah. Salah satu tipe yang sering di gunakan ialah pondasi menerus yang biasa pada rumah – rumah, dibuat dari beton atau pasangan batu, meneruskan beban dari dinding dan kolom bangunan ke tanah keras. Di dalamnya terdiri dari :
Pondasi setempat
Pondasi penerus
Pondasi pelat
Pondasi konstruksi sarang laba – laba
·         Pondasi Dalam
Di gunakan untuk menyalurkan beban bangunan melewati lapisan tanah yang lemah di bagian atas ke bagian bawah yang lebih keras. Contohnya antara lain tiang pancang, tiang bor, kaisano, dan semacamnya
Beban yang bekerja pada suatu pondasi dapat di proyeksikan menjadi :
·         Beban horisontal/beban geser, contohnya beban akibat gaya tekan tanah, transfer beban akibat gaya angin pada dinding.
·         Beban vertikal/beban tekan dan beban tarik, contohnya :
Ø  Beban mati      contohnya berat sendiri bangunan.
Ø  Beban hidup    contohnya beban penghuni
Ø  Gaya gempa
Ø  Gaya angkat air
Ø  Momen
Ø  Torsi

GAYA
Pengertian Gaya
Gaya dapat di definisikan sebagai sesuatu yang menyebabkan benda bergerak baik dari diam maupun dari gerak lambat menjadi lebih lambat maupun lebih cepat.
Di dalam teknik bangunan gaya berasal dari bangunan itu sendiri berat bendanya di atasnya atau yang menempelnya, tekanan angin, gempa, perubahan suhu, dan pengaruh pengerjaan.
Gaya dapat di gambarkan dalam bentuk garis yang memiliki dimensi besar, garis kerja, arah kerja dan titik tangkap.
Kesetaraan Gaya
Kesetaraan gaya adalah kesamaan pengaruh antara gaya pengganti (resultan) dengan gaya yang di ganti (gaya komponen) tanpa memperthatikan titik tangkap gayanya.
Dengan demikian pada suatu keadaan tertentu, walaupun gaya sudah setara atau ekuivalen, ada perbedaan pengaruh antara gaya pengganti dengan yang di ganti.
Keseimbangan Gaya
Keseimbangan gaya adalah hampir sama dengan kesataraan gaya bedanya pada arah gaya.
Pada kesetaraan gaya antara gaya pengganti dengan gaya yang diganti arah yang dituju sama, sedang pada keseimbangan gaya arah yang dituju berlawanan, gaya pengganti (reaksi) arahnya menuju titik awal dari gaya yang diganti (aksi).

ILMU UKUR TANAH
Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu yang mempelajari cara pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk menentukan posisi relatif atau mantap titik – titik pada permukaan tanah, di atasnya atau di bawahnya, dalam memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relatif suatu daerah.
Klasifikasi Pengukuran            :
1.      Pengukuran Geodasi
Pengukuran dengan mempertimbangkan bentuk bumi yang mendekati elipsoida. Sehingga mempertimbangkan bentuk lengkung bumi.
2.      Pengukuran Tanah Datar
Pengukuran tanpa mempertimbangkan bentuk bumi, dianggap sebagai bidang datar horisontal, biasanya untuk wilayah yang tidak terlalu luas.

THEODOLIT
Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang di gunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak.
Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja.
Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu dasar berbentuk bulat yang dapat diputar mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk dibaca.
Macam jenis THEODOLIT      :
1.      Theodolit Reiterasi
2.      Theodolit Repitisi
3.      Theodolit Moderen

Jumat, 06 Januari 2012

UPAYAKAN BANGUNAN HEMAT ENERGI


 Keselarasan hidup manusia dan alam terangkum dalam konsep arsitektur hijau. Konsep yang kini tengah digalakkan dalam kehidupan manusia modern.
Arsitektur hijau adalah suatu pendekatan pada Arsitektur Bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi lebih dari sebuah bangunan.
Dalam perencanaannya, harus meliputi lingkungan utama yang berkelanjutan. "Untuk pemahaman dasar Arsitektur Bangunan hijau (green architecture) yang berkelanjutan, di antaranya mempelajari tentang bahan bangunan yang mendukung penghematan energi.
Konsep arsitektur hijau juga sangatlah mendukung program penghematan energi. Salah satu contohnya rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan.
Dari segi interior juga demikian, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih.
Adapun pemanfaatan energi alternatif antara lain :

·         Untuk menghemat pemakaian listrik, kita dapat menggunakan lampu hemat energi, mempertahankan suhu AC di 25º C, membuka tirai jendela bila memungkinkan agar terang, dan matikan peralatan elektronik jika tidak diperlukan (bukan posisi stand-by).
·         Penghuni diajak memanfaatkan energi alternatif dalam memenuhi kebutuhan listrik yang murah dan praktis, serta ditunjang pengembangan teknologi energi tenaga surya, angin, atau biogas untuk bangunan rumah/ gedung.
·         Penggunaan material lokal justru akan lebih menghemat biaya (biaya produksi, angkutan). Kreativitas desain sangat dibutuhkan untuk menghasilkan bangunan berbahan lokal menjadi lebih menarik, keunikan khas lokal, dan mudah diganti dan diperoleh dari tempat sekitar. Perpaduan material batu kali atau batu bata untuk fondasi dan dinding, dinding dari kayu atau gedeg modern (bambu), atap genteng, dan lantai teraso tidak kalah bagus dengan bangunan berdinding beton dan kaca, rangka dan atap baja, serta lantai keramik, marmer, atau granit. Motif dan ornamen lokal pada dekoratif bangunan juga memberikan nilai tambah tersendiri.
·         Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.
·         Bangunan harus mulai mengurangi pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan mengisi kembali air tanah (recharge) dengan sumur resapan air (1 x 1 x 2 meter) dan/atau lubang resapan biopori (10 sentimeter x 1 meter).
·         Semua air limbah dimasukkan ke dalam sumur resapan air dengan pengolahan konvensional supaya tidak harus terlalu bergantung kepada sistem lingkungan yang ada. Cara hemat penggunaan air adalah tutup keran bila tidak diperlukan, jangan biarkan air keran menetes, hemat air saat cuci tangan dan cuci gelas/piring, pilih dual flush untuk toilet, selalu habiskan air yang Anda minum

'HEMAT' ITU TIDAK BURUK!


Definisi kota :
Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri.
Fungsi kota :
·         Sebagai pusat produksi
·         Sebagai pusat perdagangan
·         Sebagai pusat pemerintahan
·         Sebagai pusat kebudayaan
Definisi hemat :
Melakukan kegiatan dengan pola pikir memanfaatkan yang ada dengan tidak boros tidak membuang – buang.
Definisi energi :
Daya kerja atau tenaga yang merupakan kemampuan untuk melakukan usaha.
Jadi yang di maksud dengan kota hemat energi adalah kawasan pemukiman yang cermat dalam memanfaatkan energi.
Yang di maksud disini adalah kita sebagai manusia harus berpikir mengenai pemakaian energi yang ada di bumi dengan pola pikir ‘hemat’.
Peningkatan jumlah penduduk kota yang semakin tinggi serta penggunaan teknologi modern yang konsumtif energi oleh manusia juga berperan penting yang akan mengancam kota penurunan kemampuan alam atau bumi dalam mendukung kebutuhan hidup manusia.
Kenapa demikian? Dikarenakan kalau kita tidak memperhatikan energi yang kita pakai di lingkungan tanpa pola pikir hemat, kita akan kehabisan energi tersebut yang di karenakan memakai energi secara terus menerus dan tidak memikirkan cara penghematannya seperti apa.
Kota yang dibuat semakin hemat energi dapat berambisi baik sehingga kelangsungan hidup kita sebagai manusia dapat berjalan dengan damai.
Hal paling utama dalam jangka panjang adalah mentransformasikan teknologi di kota-kota menjadi menjadi teknologi yang lebih bersih. Kita kaya dalam variasi energi, tetapi kita memakai energi yang belum kita pikirkan cara untuk meminimaliskan energi.

MEMBUAT RUANG HIJAU 'INDOOR'

TAMAN sangat penting untuk menyimpan air tanah dan memberikan kesejukan bagi manusia. Akan tetapi, lahan di Jakarta dari hari ke hari semakin sulit dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau (RTH). Selain tingginya nilai ekonomis untuk lahan di Jakarta, lonjakan penduduk ikut memaksa lahan harus dijadikan area pemukiman.
Apabila lahan di area sekitar rumah tidak cukup memadai, Anda bisa memanfaatkan sedikit ruangan yang tidak terlalu terbuka untuk menciptakan taman. Mungkin atap rumah Anda bisa menjadi tempat yang cocok untuk dibuat taman.
Akan tetapi, tidak semua tanaman bisa dijadikan tanaman indoor. Apabila Anda ingin membuat taman indoor, pilihalah tanaman yang tidak terlalu membutuhkan cahaya matahari, seperti suplir atau kuping gajah. Selain itu, Anda bisa menggunakan tanaman bunga sebagi penyegar suasana.
Anda bisa gunakan media oase seperti gabus atau busa sebagai pengganti tanah, dan yang cocok dengan media tanam itu adalah tanaman siri belanda, sri rejeki, dan kayu besi.
Dalam menanam tanaman indoor perhatikan suhu ruangan jangan terlalu tinggi atau rendah. Suhu dingin pada malam hari justru diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Lalu rejinlah memutar tanaman indoor secara berkala. Bawalah keluar ruangan untuk mendapatkan udara segar kurang lebih dua minggu sekali dan hindari paparan sinar matahari langsung.
Lalu jangan terlalu sering memberikan air. Rasakan apakah tanah dalam pot sudah kering atau belum. Alirkan air hingga keluar dari lubang drainase atau dasar pot. Letakkan tanaman di atas nampan berisi kerikirl basah untuk menjaga kelembaban di sekitar tanaman.
Gunakan pot berukuran lebih besar, pastikan ada lubang drainase pada bagian bawahnya. Pilih pit berbahan plastik untuk menjaga kelembaban dan suhu tanah, atau tanha liat yang memiliki pori – pori untuk mengeluarkan kelebihan air. Tambahkan juga ground cover, bisa berupa batu hias atau pasir di atas pot guna menutupi tanaman.
Pakailah pupuk dengan intensitas 14hari sekali. Pilihlah pupuk yang mengandung nitrogen, fosfor dan kalium.
Lakukan pemangkasan secara rutin. Cara ini tidak hanya digunakan untuk mendapatkan bentuk sesuai keinginan, tetapi juga untuk menyingkirkan bagian tanaman yang sakit.

Minggu, 30 Oktober 2011

RAMAH DENGAN LINGKUNGAN


Sering kita dengar akhir-akhir ini pada zaman sekarang ini trend mode desain sebuah bangunan memiliki konsep yang ramah lingkungan.
Arsitektur ramah lingkungan merupakan arsitektur hijau, mencakup keselarasan antara manusia dengan lingkungan alamnya.
Sekarang sudah terlihat betapa kurangnya penghijauan di dunia ini, selain di landscape sekarang diterapkan pada bangunan juga.
Arsitektur hijau mengandung juga dimensi lain seperti waktu, lingkungan alam, sosio-kultural, ruang, serta teknik bangunan.
Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur hijau bersifat kompleks, padat dan vital dibanding dengan arsitektur pada umumnya.
Green architecture didefinisikan sebagai suatu gambaran  tentang ekonomi, hemat energi, ramah lingkungan, dan dapat dikembangkan menjadi pembangunan berkesinambungan.
Green Architecture dikenal dengan konstruksi hijau membuat struktur dan menggunakan proses dengan pertanggung jawabkan atas dasar lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh siklus hidup bangunan.
Dari tapak untuk desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi, dan dekonstruksi.
Tujuan umumnya adalah bahwa bangunan hijau dirancang untuk mengurangi dampak keseluruhan dari lingkungan yang dibangun pada kesehatan manusia dan lingkungan alam olehpenggunaanenergi,air,dansumberdayalain dan mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan.
Fakta akibat pemanasan global mendorong lahirnya berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan. Konsep pembangunan arsitektur hijau menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan, mulai dari desain building interior, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itukedepan.
Desain yang dirancang dan diterapkan pada arsitektur ramah lingkungan ini ialah lebih mengutamakan banyak bukaan ventilasi agar aliran udara dapat masuk dengan kondisi yang stabil dan rancangan arahan angin , matahari dan sebagainya telah diatur sedemikian rupa.
Bentuk arsitek design bangunan yang baik dan ramah lingkungan adalah bangunan yang memperhatikan lingkungan sekitarnya seperti membuat taman di lingkungan rumah dan gedung selain itu kurangi jumlah penggunaan kaca pada rumah atau bangunan gedung kantor.
Untuk desain interior, menggunakan interior yang ramah lingkungan dan mengurangi pengunaan listrik yang sangat berlebihan, selain itu gunakan bahan bahan seperti kayu, dan kurangin penggunaan kaca dan lampu atau interior lainnya yang menggandung bahan kaca. Sedangkan pada desain eksteriornya, dengan menghindari penggunaan bahan bangunan yang berbahaya dan diganti dengan yang ramah lingkungan, dengan memperbanyak taman hijau dan taman yang memang di butuhkan untuk mengatur keseimbang lingkungan sekitar.
Desain bangunan hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan.
Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran berkurang, ruang hijau bertambah).
Material pun harus dipikirkan dalam mendesain bangunan yang ramah lingkungan, dilihat dari RAB yang ada lebih mengutamakan material-material apa saja yang akan dipakai dan bersifat ramah terhadap lingkungan.